Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 09 Oktober 2013

Lebih dari Sekedar Indah


Tujuh jam terjadi gejolak hati. Jam lima subuh hingga jam satu siang yang gerah bukan karena terik diluar sana, lebih pada kondisi hati yang kembang-kempis. Atau lebih tepatnya was-was mempersiapkan acara dan berusaha memberikan segenap tenaga dan jiwa untuk pensuksesan acara. Berlari-lari. Kesana kemari, turun naik dari lantai satu ke lantai tiga, lantai tiga turun ke lantai satu, hingga beberapa kali. Harus cepat tanggap. Siap siaga pada semua kemungkinan. Siap melanyani siapapun yang memberikan aduan. Sigap menerima panggilan berjaga. Siap memantau semua personal yang terlibat sebagai ‘panitia’ dan jalannya acara.



Kedua akhwat kecil inilah, yang saya amanahkan sebagai ketua acara. Mereka ini, ya mereka yang akan terbentuk mentalnya, terbentuk kesiapannya, terbentuk kemandiriannya, menghadapi dan menjalani tongkat amanah berikutnya ditangan mereka. Jadi, aku dan mereka berdua. Aktif, sigap, cepat.
Senyum menyengat semangat yang selalu berusaha aku hadirkan untuk mereka berdua. Agar niatan mereka ikhlas karenaNya tetap terjaga. Agar semangat itu tidak luntur sedikitpun karena lelahnya fisik. Ah, senyum mereka berdua juga ternyata memberikan semangat tersendiri bagiku. Ditambah dengan jumlah peserta yang hadir yang memenuhi ruangan begitu penuh. Bertiga, bidadaripun cemburu…
Semua keputusan acara ada ditanganku dan mereka berdua. Semua alokasi waktu jalannya acara,  tentang keputusan akan seperti apa konsepan spontan, bagaimana teknis pelaksanaan, ini itu semua sie dan penugasan lainnya.
Acara begitu cetar membahana. Menenangkan, namun menegangkan. Terutama saat harus menerima kenyataan acara ngaret karena pembicara ke-dua mengambil banyak jatah waktu setelahnya. Terpaksa alokasi waktu dirombak lagi. Konsekuensi terbesarnya adalah akan ada sesi break untuk sholat dan makan. Ini tidak ada dalam konsepan. Pukul satu siang seharusnya diselesaikan, begitu planning anggaran waktu. Memutuskan break? Maka makan siang peserta 200an itu harus segera siap. Namun yang menjadi masalahpun pihak panitia tidak menyediakan minum untuk makan siang, karena terwacana awal adalah makan siang dibagikan saat pulang. Artinya? Oke, kami putuskan break, biarkan mereka mendahulukan sholat. Dan, komando panitia untuk sigap segera menyiapkan galon air minum dan gelas plastik yang cukup. Melelahkan? Jelas. Namun bahagia karena tulus dan saling menguatkan.
Menarik napas dalam pun tahmid berkali-kali ku lakukan bersama kedua bocil ini sesaat setelah MC mengucap salam penutupan. Lega. Semua bisa terhandle dengan baik. Acara sukses menurut versi kami. Mendengar respon para peserta tentang acaranya ini pun menambah syukur kami. “Subhanallah, saya yang sebelumnya kehilangan semangat untuk belajar, setelah mengikuti serangkaian seminar ini, semangat itu membara lagi. Saya ucapkan terima kasih kepada segenap panitia penyelanggara…” Jelas seorang akhwat yang maju saat pembagian doorprize memberi kesan acara. Via online pun demikian, respon tiada henti datang dari berbagai personal mengucapkan terima kasih.



Aku, dan kedua adikku ini, kini tersenyum lebar. Mensyukuri nikmatnya tiada kira… Ketika semesta alam bertasbih, malulah kami jika tiada memuji dan mensyukuri nikmatMU ^^ Lebih dari sekedar indah… ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About