“Pulang! Pulang! JMA!”
Sering denger kalimat itu dari
sang kakak kampus mengingatkanmu? Sebenernya JMA atau Jam Malam Akhwat
itu apa sih? Jam Malam Akhwat emang jam berapa? Kenapa harus ada JMA
sih, rempong deh? Siapa yang buat aturan JMA, iiih iuh?
Jam
Malam Akhwat atau biasa disingkat JMA adalah suatu kebijakan yang
diberlakukan tidak lain semata untuk ‘menjaga’ kaum ‘akhwat’ dari
berbagai gangguan dan fitnah yaitu berupa batas waktu interaksi
tertentu… Buat apa? ya buat kamu, iya kamu :D dan JMA ini sesuai
kebijakan sesepuh yang entah akar-berukar sesepuh ADK (Aktivis Dakwah
Kampus) yang mana, dari mana dan siapa namanya, yang jelas ditetapkan
dan disepakati bersama hampir sama di setiap Lembaga Dakwah Kampus di
Indonesia (wow :B) limit JMA adalah jam 21.00, artinya semua aktifitas
yang berhubungan dengan hal-hal atau orang-orang asing dan kaum icswan
(baca: ikhhhhwan), harapannya disudahi dulu: smsan, chating, keluar
rumah… Rempong, buat apa coba? Hari gini masih dibatasi? Wanita kan
bebas menentukan jalannya! (Menurut L?!)
“Kenapa harus jam 21.00…?”
Ya
mungkin awalnya karena semua sepakat bahwa jam 21.00: hari sudah mulai
menggelap, dan jalanan yang biasa ramai bisa jadi mulai sepi, pun
binatang-binatang buas mulai keluar dari sarangnya, bisa jadi…. Bentuk
ijtihad aje kali yee… Wes, 21.00 wae sudah oke, moso jam 00.00 lebih
ngeri tho… Atau kamu mau bikin buat sendiri JMA mu jam18.00 juga gapapa…
:D
“Saya bisa jaga diri mbak, meski harus pulang dari kampus ke kos sampe jam 11 malem!”
Kamu sih bisa jaga diri, tapi fitnah tak kenal benteng ego yang kau bangun! Fitnah tak kenal tuannya siapa!
Begitupun
gangguan binatang, para pemuda yang mobok di jalanan, benda-benda
tajam di jalan yang dilalui, atau gangguan lain yang bisa terjadi, tidak
semua bisa kau handle sendiri! Kamu seorang putri Man, eh Girl! seorang
Khadijah yang tangguh pun tetap menjaga diri, moso kamu yang ngakunya
akhwat jagoan tak memperhatian hal-hal kecil untuk kebaikan dirimu
sendiri?
“Lah, kan fitnah dan gangguan itu juga bisa di pagi atau siang hari mbak!?”
Nah,
coba buka Al-Qur’an surat Al-Falaq. Hafal kan? Artinya hafal?
Beluuuuuum?…. Yaeeelah, lain kali surat-surat pendek yang biasa dipake
buat sholat difahami juga artinya, biar selama sholat pikiran ga
terbang-terbang :3 Kecuali kalo ga biasa sholat, eh…
Qur’an Surat Al-Falaq ayat ke-3 yang artinya:
“…dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita…”
Tuh!
Al-Quran sudah mengingatkan, menegaskan, menampar-nampar, eh :D bahwa
jelas, malam itu sangat identik dengan kejahatan… Mulai dari gangguan
manusia, gangguan syetan atas komunikasi dan interaksi yang
berkelanjutan (syetannya bisa jadi makin kuat), gangguan jin, gangguan
binatang, gangguan penyihir dan gangguan orang yang dengki (ayat
selanjutnya)… Dalam tafsir ayat ini juga dijelaskan kisah Rasulullah
yang disihir…. Itu Al-Qur’an loh, kata Allah, bukan kata gue! Oh Man!
Jadi
sekarang, coba estimasi waktu perjalanan pulang dari kampus sampe
rumah/kos akan menghabiskan murajaah berapa juz? Eh berapa jam/menit?
Lalu sesuaikan dengan kegiatan dan kebutuhan di kampus, kalo memang
saatnya pulang ya pulang! Kalo sudah faham, bangun komitmen! Buat
kebaikan kamu loh, iya kamu…
“Hmm… tapi kan ga bisa
juga mbak, ga semua orang faham JMA, apalagi kalo kita dilembaga umum
non LDK, atau di masyarakat, ya ga bisa lah!”
Ga masalah. Rapat lembaga contohnya, toh juga semakin malam semakin mudah kemana-mana pembahasannya tho? Jaga
izzah
diri ya tuan putri… Jadi kalo kamu di lembaga umum, kamu bisa
mengkomunikasikan sebelumnya dengan temen-temen yang lain atau ketua
lembaga… Sederhana, tinggal bilang, jam 21.00 apapun yang terjadi, meski
langit terbelah, gunung berapi-api, dan bumi pecah (halah -,-) saya
harus pulang ke rumah, titik!
Selama kamu profesional dan bisa
totalitas selama ini dalam amanahmu di lembaga umum itu, saya rasa ga
masalah dengan komitmen yang kamu bangun untuk mereka hargai. Sama kayak
ketika kamu ditawari rokok mungkin, tinggal jawab, “Maaf, saya ga
ngerokok”. Atau ketika kamu puasa ditawari minum, “Maaf, insyaAllah saya
puasa” atau ketika diajak makan sate si-pig, “Maaf, saya Muslim”… Nah,
itu juga kan komitmen, coba tambah juga deh komitmen JMA nya ;) Jadi
kalo ada yang nawarin shoping jam sampe dini hari (emang ada?) tinggal
jawab aja toh? “Maaf, ga punya duit!” :D Eeeh: “Maaf, saya ga bisa!”
Atau ketika di masyarakat, di karang taruna misalnya, coba deh
dijelaskan dengan pengurus yang lain, tentang urgensi wanita menjaga
diri dan sarananya… Aha! Komitmen JMA ;)
“Tapi, moso ada hal-hal mendesak ditinggalkan karna JMA?!!”
Yang
namanya mendesak ya mendesak. Apalagi mendesak-penting, ya dahulukan.
Lah kalo mau sholat tapi makanan sudah terhidangkan saja lebih
diutamakan makan dulu… Logika sederhana misalnya, Perjalanan pulang ke
kos jam 20.55 diperjalanan bertemu seorang ibu-ibu sendirian perlu
segera diantar ke rumah sakit mau melahirkan malah kamu bilang “Maaf Bu,
sudah JMA, saya harus pulang!” … Nooooooo :D (Eh kok ada ibu-ibu hamil
sendirian dijalan ya, liat-liat juga si-ibunya, siapa tau punggungnya
bolong, wkwkwkwk :v :v :v)
Atau ketika ada temenmu yang
sakit setengah pingsan pasca rapat bareng kamu dikampus jam segitu, “Eh
kok pingsan, aku pulang dulu aja ya, sudah JMA…besok aja pingsannya
lanjut lagi, nanti tak tolongin…” Nooooo….. :D
Atau ketika
perlu sms penting menanyakan keberadaan sesuatu pada si-ikhwan, yo wes
penting ya sms… “Maaf sms malem-malem… bla…bla…”
Atau ketika ada
agenda ngaji bareng satu asrama misalnya, pulangnya harus cukup malam.
Selama bisa pulang bersama dan ada yang lebih bisa dianggap ‘tua’ atau
dituakan (?), monggo, tidak mempersulit…
Catatan juga,
saat kita dalam posisi pengamat, hindari suka men-judge saudara sesama
akhwat yang ternyata ‘nongol’ diluar saat-saat jam kritis, siapa tau
memang sedang penting, atau sedang mendesak, atau sedang penting
mendesak, atau memang lagi jalan sama suami (ngiri? -.-) :D
Namun
yang menjadi catatan, sering kali sesuatu yang tidak begitu mendesak
justru kamu sendiri yang membuatnya seolah
sangat-sangat-sangat-sangaaaaaaaaaat mendesak. Misalnya, sedang ngeprint
berkas-berkas di sekre lembaga sampe begitu larut malam. Dengan alasan
mendesak karena esok harinya ga sempet… Ga sempet atau karena kamu
bangunannya biasa rada siang? Ga punya print? Ga ada jasa print yang
pagi-pagi udah buka gitu? Ya gapapa sih, toh jika memang kondisinya
memang penting dan segera/‘mendesak’ ya monggo… Jelasnya, Allah lebih
tau hati dan keadaan yang sebenarnya sepandai apapun alasan di-reka…
Sekali lagi, semuanya kembali ke kamu dan semuanya buat kamu loh ya,
buat menjaga
izzah (
izzah tu siapa sih?) dan kebaikan dirimu sendiri…
Kamu
tuh calon istri orang, kesehatan diri wanita itu investasi berharga
buat hidupmu berkeluarga kedepan, nah loh… Kamu juga calon ibu, calon
ibu Man, calon Ibu! Ibu yang akan mendidik anak-anakmu nanti… Apa mau
anak gadismu tiap hari pulang malem ketika jadi mahasiswi sepertimu?
#Jleb
“Terus, kalo online mbak, pake JMA juga?”
Saya
kembalikan padamu… Ini fiqh kontemporer jadinya, belum pernah ada Bab
“JMA Online” sih :D … Ijtihhad kamu, kalo saya sih punya komitmen
sendiri…. mengingat sebagian orang, online juga menjadi kebutuhan bukan
lagi keinginan, jadi coba kamu bikin benteng sendiri, kira-kira kalo
online sosmed yang akan menimbulkan interaksi jika dikorelasi dengan JMA
akan seperti apa… Yang terpenting dan intinya: jaga hati, karna
“fitrah”nya (fitrah loh ya…) malam hari (QS. Al-Falaq tadi) rawan dengan
fitnah dan ‘gangguan’… Kalo kamu kekeh bahwa chating inbox facebook
diatas jam21.00 dengan si-ini si-itu si-anu, tidak akan meninggalkan
sinyal-sinyal warna-warni apapun yang akan memenuhi pikiranmu pasca itu,
yo wes... Sederhananya, bayang-bayang sinyal warna-warni yang
menerawang pikiran pasca itu bisa jadi membuat lupa berdo’a sebelum
tidur atau lupa tilawah dihari itu, nah…
Tafadholi…
Islam begitu indah menjagamu…
Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukazdibaan?
Bayangkan jika semua kaum wanita di dunia ini sholihah dan menjaga diri
sepertimu (eeeaaa…) dunia Adil dan Sejahtera (eh :D)… Kamu masih tetep
ga mau tau soal JMA? Ya gapapa sih, saran saya cukup satu syaratnya:
“Cari Pendamping” woi !… Jadi kemana-mana mau jam berapapun, mau via
apapun, mau chating ngomongin apa aja, bisa berduaaaaaaa….. eeeaaaaaa…
Hoh :D
Yang jelas, ga ada ayat Al-Quran yang secara khusus menyebutkan
Laa taqrabu-JMA… atau hadis juga ga ada
Qolaa rasulullahi saw…Innal JMA… Ga
ada! :D JMA adalah bentuk ikhtiar buat aku, buat kamu, kita, mereka,
buat siapapun yang mau menjadikannya salah satu bentuk cintaNya dan
cinta sang kakak saja ^^
Cukup dulu untuk sesi JMA ini
(panjang bingit, afwan :D).. Lain kali lanjut bahasan yang lain… Kritik,
saran, masukan, pertanyaan, inbox wae… just for akhwat loh ya… terutama
anak-anak #Mom… (Catatan ini juga adalah tamparan buat #Mom Nak, jadi
cukup ambil ibroh dari tulisannya, jangan ngebayangin sosok yang menulis
loh ya :D) Ingatkan jika banyak salah… Jazakillah sholihah…
#Keepproduktif #Keepsholihah