Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Pena Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pena Dakwah. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

GURU






#CatatanLama
 
Pekerjaan paling beresiko itu adalah Guru.
Loh, Kenapa?
Karena kalo sampe Guru salah ngasih ilmu ke calon dokter, bahaya kan?
Kalo sampe Guru salah ngasih ilmu ke calon Pilot, beresiko kan?
Salah ngasih ilmu ke calon Akuntan, masalah kan…?

Saya pernah interview tes masuk calon guru sebuah sekolah menengah terbaik di Yogya, udah seneng-seneng keterima ternyata hasil tes-nya apa? Saya ga cocok jadi Guru Administrasi, cocoknya jadi guru Seni, Guru Bimbingan Konseling/ Psikolog, atau yang berhubungan dengan Media. Jadilah saya Admin Web-desain grafis lembaga sosial sekolah :D Ga nyambung kan? Dimana pertanggungjawaban title gue nanti man :3 Tiga tahun gue kuliah Administrasi :D Hehee…

Nah itu, para calon guru, mumpung belum lulus, hayo atuh diniatin untuk profesional di bidangnya. Kalo kata Murabbi saya yang super, umat Muslim sekarang itu ngomongin dakwah, dakwah apa? Kita butuh ilmuwan muslim yang teori-teorinya dipake di buku-buku kuliah suatu saat, kita butuh dokter muslim yang taat agamanya, kita butuh insinyur-insunyur muslim yang baik akhlaknya, kita butuh para pejabat negara yang 10 muwashofatnya terjaga. Itu!

Bakat-Minat sama Keterpaksaaan  bidang kuliah kamu, sama2 bisa mengantarkanmu jadi ahli dibidangnya kok, insyaAllah… J Semangat menjadi (calon) Guru!

Rabu, 09 Juli 2014

Jam Malam Akhwat (JMA)





“Pulang! Pulang! JMA!”


Sering denger kalimat itu dari sang kakak kampus mengingatkanmu? Sebenernya JMA atau Jam Malam Akhwat itu apa sih? Jam Malam Akhwat emang jam berapa? Kenapa harus ada JMA sih, rempong deh? Siapa yang buat aturan JMA, iiih iuh?

Jam Malam Akhwat atau biasa disingkat JMA adalah suatu kebijakan yang diberlakukan tidak lain semata untuk ‘menjaga’ kaum ‘akhwat’ dari berbagai gangguan dan fitnah yaitu berupa batas waktu interaksi tertentu… Buat apa? ya buat kamu, iya kamu :D dan JMA ini sesuai kebijakan sesepuh yang entah akar-berukar sesepuh ADK (Aktivis Dakwah Kampus) yang mana, dari mana dan siapa namanya, yang jelas ditetapkan dan disepakati bersama hampir sama di setiap Lembaga Dakwah Kampus di Indonesia (wow :B) limit JMA adalah jam 21.00, artinya semua aktifitas yang berhubungan dengan hal-hal atau orang-orang asing dan kaum icswan (baca: ikhhhhwan), harapannya disudahi dulu: smsan, chating, keluar rumah… Rempong, buat apa coba? Hari gini masih dibatasi? Wanita kan bebas menentukan jalannya! (Menurut L?!)

“Kenapa harus jam 21.00…?”

Ya mungkin awalnya karena semua sepakat bahwa jam 21.00: hari sudah mulai menggelap, dan jalanan yang biasa ramai bisa jadi mulai sepi, pun binatang-binatang buas mulai keluar dari sarangnya, bisa jadi…. Bentuk ijtihad aje kali yee… Wes, 21.00 wae sudah oke, moso jam 00.00 lebih ngeri tho… Atau kamu mau bikin buat sendiri JMA mu jam18.00 juga gapapa… :D

“Saya bisa jaga diri mbak, meski harus pulang dari kampus ke kos sampe jam 11 malem!”

Kamu sih bisa jaga diri, tapi fitnah tak kenal benteng ego yang kau bangun! Fitnah tak kenal tuannya siapa!
Begitupun gangguan binatang, para pemuda yang mobok di jalanan,  benda-benda tajam di jalan yang dilalui, atau gangguan lain yang bisa terjadi, tidak semua bisa kau handle sendiri! Kamu seorang putri Man, eh Girl! seorang Khadijah yang tangguh pun tetap menjaga diri, moso kamu yang ngakunya akhwat jagoan tak memperhatian hal-hal kecil untuk kebaikan dirimu sendiri?

“Lah, kan fitnah dan gangguan itu juga bisa di pagi atau siang hari mbak!?”

Nah, coba buka Al-Qur’an surat Al-Falaq. Hafal kan? Artinya hafal? Beluuuuuum?…. Yaeeelah, lain kali surat-surat pendek yang biasa dipake buat sholat difahami juga artinya, biar selama sholat pikiran ga terbang-terbang :3 Kecuali kalo ga biasa sholat, eh…
Qur’an Surat Al-Falaq ayat ke-3 yang artinya:
“…dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita…”

Tuh! Al-Quran sudah mengingatkan, menegaskan, menampar-nampar, eh :D bahwa jelas, malam itu sangat identik dengan kejahatan… Mulai dari gangguan manusia, gangguan syetan atas komunikasi dan interaksi yang berkelanjutan (syetannya bisa jadi makin kuat), gangguan jin, gangguan binatang, gangguan penyihir dan gangguan orang yang dengki (ayat selanjutnya)… Dalam tafsir ayat ini juga dijelaskan kisah Rasulullah yang disihir…. Itu Al-Qur’an loh,  kata Allah, bukan kata gue! Oh Man!

Jadi sekarang, coba estimasi waktu perjalanan pulang dari kampus sampe rumah/kos akan menghabiskan murajaah berapa juz? Eh berapa jam/menit? Lalu sesuaikan dengan kegiatan dan kebutuhan di kampus, kalo memang saatnya pulang ya pulang! Kalo sudah faham, bangun komitmen! Buat kebaikan kamu loh, iya kamu…

“Hmm… tapi kan ga bisa juga mbak, ga semua orang faham JMA, apalagi kalo kita dilembaga umum non LDK, atau di masyarakat, ya ga bisa lah!”

Ga masalah. Rapat lembaga contohnya, toh juga semakin malam semakin mudah kemana-mana pembahasannya tho? Jaga izzah diri ya tuan putri… Jadi kalo kamu di lembaga umum, kamu bisa mengkomunikasikan sebelumnya dengan temen-temen yang lain atau ketua lembaga… Sederhana, tinggal bilang, jam 21.00 apapun yang terjadi, meski langit terbelah, gunung berapi-api, dan bumi pecah (halah -,-) saya harus pulang ke rumah, titik!
Selama kamu profesional dan bisa totalitas selama ini dalam amanahmu di lembaga umum itu, saya rasa ga masalah dengan komitmen yang kamu bangun untuk mereka hargai. Sama kayak ketika kamu ditawari rokok mungkin, tinggal jawab, “Maaf, saya ga ngerokok”. Atau ketika kamu puasa ditawari minum, “Maaf, insyaAllah saya puasa” atau ketika diajak makan sate si-pig, “Maaf, saya Muslim”… Nah, itu juga kan komitmen, coba tambah juga deh komitmen JMA nya ;) Jadi kalo ada yang nawarin shoping jam sampe dini hari (emang ada?) tinggal jawab aja toh? “Maaf, ga punya duit!” :D Eeeh: “Maaf, saya ga bisa!” Atau ketika di masyarakat, di karang taruna misalnya, coba deh dijelaskan dengan pengurus yang lain, tentang urgensi wanita menjaga diri dan sarananya… Aha! Komitmen JMA ;)

“Tapi, moso ada hal-hal mendesak ditinggalkan karna JMA?!!”

Yang namanya mendesak ya mendesak. Apalagi mendesak-penting, ya dahulukan. Lah kalo mau sholat tapi makanan sudah terhidangkan saja lebih diutamakan makan dulu… Logika sederhana misalnya, Perjalanan pulang ke kos jam 20.55 diperjalanan bertemu seorang ibu-ibu sendirian perlu segera diantar ke rumah sakit mau melahirkan malah kamu bilang “Maaf Bu, sudah JMA, saya harus pulang!” … Nooooooo :D (Eh kok ada ibu-ibu hamil sendirian dijalan ya, liat-liat juga si-ibunya, siapa tau punggungnya bolong, wkwkwkwk :v :v :v)

Atau ketika ada temenmu yang sakit setengah pingsan pasca rapat bareng kamu dikampus jam segitu, “Eh kok pingsan, aku pulang dulu aja ya, sudah JMA…besok aja pingsannya lanjut lagi, nanti tak tolongin…” Nooooo….. :D

Atau ketika perlu sms penting menanyakan keberadaan sesuatu pada si-ikhwan, yo wes penting ya sms… “Maaf sms malem-malem… bla…bla…”
Atau ketika ada agenda ngaji bareng satu asrama misalnya, pulangnya harus cukup malam. Selama bisa pulang bersama dan ada yang lebih bisa dianggap ‘tua’ atau dituakan (?), monggo, tidak mempersulit…

Catatan juga, saat kita dalam posisi pengamat, hindari suka men-judge saudara sesama akhwat yang ternyata ‘nongol’ diluar saat-saat jam kritis, siapa tau memang sedang penting, atau sedang mendesak, atau sedang penting mendesak, atau memang lagi jalan sama suami (ngiri? -.-) :D

Namun yang menjadi catatan, sering kali sesuatu yang tidak begitu mendesak justru kamu sendiri yang membuatnya seolah sangat-sangat-sangat-sangaaaaaaaaaat mendesak. Misalnya, sedang ngeprint berkas-berkas di sekre lembaga sampe begitu larut malam. Dengan alasan mendesak karena esok harinya ga sempet… Ga sempet atau karena kamu bangunannya biasa rada siang? Ga punya print? Ga ada jasa print yang pagi-pagi udah buka gitu? Ya gapapa sih, toh jika memang kondisinya memang penting dan segera/‘mendesak’ ya monggo… Jelasnya, Allah lebih tau hati dan keadaan yang sebenarnya sepandai apapun alasan di-reka… Sekali lagi, semuanya kembali ke kamu dan semuanya buat kamu loh ya, buat menjaga izzah (izzah tu siapa sih?) dan kebaikan dirimu sendiri…

Kamu tuh calon istri orang, kesehatan diri wanita itu investasi berharga buat hidupmu berkeluarga kedepan, nah loh… Kamu juga calon ibu, calon ibu Man, calon Ibu! Ibu yang akan mendidik anak-anakmu nanti… Apa mau anak gadismu tiap hari pulang malem ketika jadi mahasiswi sepertimu? #Jleb

“Terus, kalo online mbak, pake JMA juga?”

Saya kembalikan padamu… Ini fiqh kontemporer jadinya, belum pernah ada Bab “JMA Online” sih :D … Ijtihhad kamu, kalo saya sih punya komitmen sendiri…. mengingat sebagian orang, online juga menjadi kebutuhan bukan lagi keinginan, jadi coba kamu bikin benteng sendiri, kira-kira kalo online sosmed yang akan menimbulkan interaksi jika dikorelasi dengan JMA akan seperti apa… Yang terpenting dan intinya: jaga hati, karna “fitrah”nya (fitrah loh ya…) malam hari (QS. Al-Falaq tadi) rawan dengan fitnah dan ‘gangguan’… Kalo kamu kekeh bahwa chating inbox facebook diatas jam21.00 dengan si-ini si-itu si-anu, tidak akan meninggalkan sinyal-sinyal warna-warni apapun yang akan memenuhi pikiranmu pasca itu, yo wes... Sederhananya, bayang-bayang sinyal warna-warni yang menerawang pikiran pasca itu bisa jadi membuat lupa berdo’a sebelum tidur atau lupa tilawah dihari itu, nah… Tafadholi…

Islam begitu indah menjagamu… Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukazdibaan? Bayangkan jika semua kaum wanita di dunia ini sholihah dan menjaga diri sepertimu (eeeaaa…) dunia Adil dan Sejahtera (eh :D)… Kamu masih tetep ga mau tau soal JMA? Ya gapapa sih, saran saya cukup satu syaratnya: “Cari Pendamping” woi !… Jadi kemana-mana mau jam berapapun, mau via apapun, mau chating ngomongin apa aja, bisa berduaaaaaaa….. eeeaaaaaa… Hoh :D

Yang jelas, ga ada ayat Al-Quran yang secara khusus menyebutkan Laa taqrabu-JMA… atau hadis juga ga ada Qolaa rasulullahi saw…Innal JMA… Ga ada! :D JMA adalah bentuk ikhtiar buat aku, buat kamu, kita, mereka, buat siapapun yang mau menjadikannya salah satu bentuk cintaNya dan cinta sang kakak saja ^^

Cukup dulu untuk sesi JMA ini (panjang bingit, afwan :D).. Lain kali lanjut bahasan yang lain… Kritik, saran, masukan, pertanyaan, inbox wae… just for akhwat loh ya… terutama anak-anak #Mom… (Catatan ini juga adalah tamparan buat #Mom Nak, jadi cukup ambil ibroh dari tulisannya, jangan ngebayangin sosok yang menulis loh ya :D) Ingatkan jika banyak salah… Jazakillah sholihah…

#Keepproduktif #Keepsholihah

Senin, 03 Februari 2014

Delapan Fikrah Ikhwan

            
Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah berkata: “Sebagai hasil dari pemahaman komprehensif dan utuh tentang Islam dalam diri Ikhwanul Muslimin, maka fikrah mereka melingkupi seluruh aspek ishlahul ummah (perbaikan ummat)”. Sehingga beliau selanjutnya mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah:
 
            (1) Da’wah Salafiyah   دعوة سـلـفية    karena mereka berda’wah untuk mengajak kembali (bersama Islam) kepada sumbernya yang jernih dari kitab Allah dan Sunnah RasulNya
            (2) Thariqah Sunniyyah   طريقة سنية   karena mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci –khususnya dalam masalah aqidah dan ibadah- semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka
            (3)  Hakikat Shufiyah     حقيقة صوفية    karena mereka memahami asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas ‘amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, mahabbah fillah dan keterikatan kepada kebaikan
            (4)   Hai’ah Siasiyah     هيئة سياسية     karena mereka menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan, meluruskan persepsi yang terkait dengan hubungan ummat Islam terhadap bangsa-bangsa lain di luar negeri, men-tarbiyah bangsa agar memiliki ‘izzah dan menjaga identitasnya
            (5) Jama’ah Riyadhiyah      جماعة رياضية     karena mereka sangat memperhatikan masalah fisik dan memahami benar bahwa seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang mukmin yang lemah
            (6) Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah     رابطة علمية ثـقـافـيـة     karena Islam menjadikan tholabul ‘ilm sebagai kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Majelis-majelis ikhwan pada dasarnya adalah madrasah-madrasah ta’lim dan peningkatan wawasan. Ma’had-ma’had yang ada adalah untuk men-tarbiyah fisik, akal dan ruh
            (7) Syirkah Iqtishodiyah   شركة إقتصادية    karena Islam sangat memperhatikan perolehan harta dan pendistribusiannya. Inilah yang disabdakan Rasulullah saw:       

نعم المال الصالح للرجل الصالح

“Sebaik-baik harta adalah (yang dipegang) oleh seorang yang sholeh”.

من أمسى كالا من عمل يده أمسى مغفورا  له

“Barangsiapa yang terbekali oleh hasil keringatnya sendiri,
 ia menjadi orang yang diampuni.”

إن الله يحب المؤمن المحترف

“Sesungguhnya Allah menyukai seorang mukmin yang mempunyai pekerjaan.”
            (8) Fikrah Ijtima’iyah   فكرة إجتماعية    karena mereka sangat menaruh perhatian pada segala ‘penyakit’ yang ada dalam masyarakat Islam dan berusaha menterapi atau mengobatinya

            “Demikianlah, kita bisa melihat bahwa integralitas makna kandungan Islam telah menyatu dengan fikrah kami. Integralitas yang menyentuh semua sisi pembaharuan, dan aktivitas Ikhwan mengarah kepada pemenuhan semua sisi ini. Pada saat orang-orang selain mereka hanya menggarap satu sisi dengan mengabaikan sisi-sisi yang lainnya, maka Ikhwan berusaha menuju kepada sisi-sisi itu semuanya. Ikhwan memahami bahwa Islam memang menuntut mereka untuk memberikan perhatian kepada semua sisi itu.” (Risalah Mu’tamar Al-Khamis)

            Cuplikan di atas diambil dari Risalah Mu’tamar Al-Khamis yang diberi sub-judul “Fikrah Ikhwanul Muslimin Menghimpun Seluruh Makna Ishlah (Perbaikan)” atau

فكرة الإخوان المسلمين تضم كل المعانى الإصلاحية

Berdasarkan hal di atas kita dapat menyimpulkan betapa IM sejak dari semula oleh pengasasnya, yakni Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna,  telah dicanangkan sebagai sebuah jama’ah yang memandang Islam dengan suatu pandangan yang menyeluruh atau syamil. Sehingga sebagai sebuah gerakan iapun bercirikan sebuah gerakan menyeluruh atau harakah syamilah. Ikhwan tidak pernah memperjuangkan Islam parsial atau juz’i, sehingga iapun tidak pernah menjadi sebuah gerakan parsial atau harakah juz’iyah.
 Ikhwan tidak pernah dimaksudkan hanya menjadi sebuah “da’wah salafiyah” yang memang mengajak manusia agar kembali kepada keaslian Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw tetapi tanpa kejelasan langkah-langkah untuk mencapainya. Atau hanya bercirikan “thariqah sunniyah” dalam arti memang  mengajak menjalankan amal sesuai sunnah Rasul  -terutama dalam aspek aqidah dan ibadah- namun menyepelekan pentingnya mengikuti perkembangan situasi sosial dan politik di tengah masyarakat. Atau hanya bersifat “hakikat sufiyah” dalam arti concern akan kesucian jiwa namun meninggalkan aktivitas mulia amar ma’ruf nahi munkar. Atau hanya berbentuk “hai’ah siasiyah” dalam artian mementingkan pemeliharaan ‘izzah dan identitas ummat namun menyepelekan aspek da’wah dan kaderisasi mempersiapkan para calon pemimpin masa depan. Atau hanya bersibuk menjadi “jama’ah riyadhiyah” dalam artian memperhatikan aspek fisik namun mengabaikan upaya pencerdasan ummat. Atau hanya mengembangkan diri menjadi “rabithoh ‘ilmiyah tsaqofiyah” dalam arti memperhatikan tholabul ‘ilmi lalu  mengabaikan aspek operasional dan jihad. Atau hanya menyuburkan diri menjadi “syirkah iqtishodiyah” dalam arti sanggup melahirkan para kader yang berharta namun lupa tujuan utama perjuangan. Atau hanya berciri “fikrah ijtima’iyah” dalam arti memiliki kepedulian terhadap masalah sya’biyah dan mampu menanggulanginya namun pada saat bersamaan para kadernya memiliki kondisi baitul muslim (keluarga da’wah)  yang bermasalah. 
 
Ikhwan adalah sebuah gerakan da’wah atau jama’ah yang berusaha memiliki kelengkapan delapan fikrah di atas secara simultan dan utuh. Tidak ada satupun di antara kedelapan fikrah di atas yang barang seharipun dianggap sepele oleh Ikhwan. Sebab pengabaian salah satu saja dari fikrah di atas berarti Ikhwan meninggalkan ciri khas ajaran Dinul Islam yang syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh-sempurna-saling menyempurnakan). Dan seluruh fikrah di atas bilamana secara konsisten terpelihara oleh sebuah jama’ah, maka dengan sendirinya akan sanggup menghasilkan seluruh sasaran ishlahun nafs bagi setiap kader Ikhwan yang telah digariskan Imam Hasan Al-Banna.


(1)   Da’wah Salafiyah untuk mencapai target salimul aqidah (lurus aqidahnya)
(2)   Thariqah Sunniyah untuk mencapai target shahihul ibadah (benar ibadahnya), salimul aqidah (lurus aqidahnya) dan matiinul khuluq (baik akhlaknya)
(3)   Hakikat Shufiyah untuk mencapai target mujahadah li nafsihi (melakukan mujahadah terhadap diri sendiri) serta matiinul khuluq (baik akhlaknya)
(4)   Hai’ah Siasiyah untuk mencapai target mutsaqqoful fikri (luas wawasannya) dan naafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi orang lain)
(5)   Jama’ah Riyadhiyah untuk mencapai target qowwiyyul jismi (kuat fisiknya) dan munazzomun fii syu’uunihi (rapi  urusannya)
(6)   Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah untuk mencapai target mutsaqqoful fikri (luas wawasannya) serta harishun ‘ala waqtihi (perhatian terhadap waktunya)
(7)   Syirkah Iqtishodiyah untuk mencapai target qaadirun ‘alal kasbi (mampu mencari penghidupan), harishun ‘ala waqtihi (perhatian terhadap waktunya dan munazzomun fii syu’uunihi (rapi urusannya)
(8)   Fikrah Ijtima’iyah untuk mencapai target naafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi orang lain)

Dan sebaliknya, bilamana suatu jama’ah merasakan ada di antara sekian banyak sasaran ishlahun nafs  yang tidak dimiliki oleh para kadernya, itu berarti ada salah satu atau sebagian fikrah ikhwan di atas yang belum diwujudkan oleh jama’ah. Perlu dilakukan suatu evaluasi jujur dan obyektif terhadap situasi dan kondisi yang ada. Sebuah jama’ah yang berafiliasi kepada fikrah Hasan Al-Banna  perlu mewujudkan kedelapan fikrah ini dalam ‘amalnya berupa kelengkapan infra-struktur tandzim-nya berlandaskan delapan fikrah ikhwan ini. Dan setiap kader ikhwan seyogyanya ditarbiyah melalui kedelapan sarana struktur tersebut.  Sehingga pantaslah Imam Hasan Al-Banna menggambarkan kader Ikhwan sejati sebagai berikut:
 
“Orang-orang melihat suatu saat ada seorang akh muslim yang tengah berdoa di mihrab dengan penuh kekhusyu’an sampai menangis dan merendahkan diri di hadapan Allah. Pada saat yang lain terlihat bahwa dia adalah seorang guru yang nasihat-nasihatnya  bisa menggetarkan dada setiap telinga yang mendengarnya. Selain itu, ternyata ia juga seorang olahragawan yang handal (melempar bola dan sigap di depan lawan atau mahir berenang). Pada saat yang lain lagi dia sudah berada di tempat usaha atau pekerjaannya, melakukan aktivitas bisnis dengan penuh amanah, ikhlas dan profesional."
(Risalah Mu’tamar Al-Khamis)

Marotibul Amal (Tingkatan Amal)

1.Definisi

Marotibul amal adalah Bertingkatnya lahan amal kita, dengan istilah singkatnya, kebertahapan kita dalam beramal. Mengapa perlu bertahap? Karena setiap fase dalam hidup kita sangat berbeda dari masa satu ke masa yang lain. Ikhwanul Muslimin tidak memiliki tujuan yang direka-reka . Namun Islam memang mengharuskan kaum muslimin mewujudkan tujuan-tujuannya yang berjuang dan berkorban dengan harta dan jiwa. Di antara tujuan-tujuan ini, ada yang berkaitan dengan individu, baik laki-laki maupun perempuan, ada yang berhubungan dengan keluarga, ada yang berhubungan dengan pekerjaan, ada yang berhubungan masyarakat, ada yang berhubungan dengan pemerintahan, ada yang berhubungan dengan politik, ekonomi, militer, pendidikan, dan media massa. Ada diantaranya merupakan jangka pendek, jangka panjang, dan tujuan antara, ada yang merupakan tujuan materi, ada pula yang merupakan tujuan non materi.

2.Tingkatan

Berdasarkan uraian diatas perlulah kita membuat semacam perencanaan awal. Dalam risalah ta’lim ustadz Hasan Al Banna mengatakan, “Ringkasnya, kita menginginkan pribadi muslim, rumah tangga Muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam dan Negara yang memandu negara-negara Islam, yang menyatukan ragam kaum muslimin, mengembalikan kejayaannya, merebut kembali tanah air yang hilang, yang terempas dan negeri yang pernah dirampok. Selanjutnya, Negara itu akan mengibarkan panji jihad dan dakwah Islam, sehingga dunia ini akan damai di bawah ajaran Islam.

Sebenarnya kita memiliki 2 tujuan pokok :

a)Membebaskan negeri Islam dari semua kekuasaan asing. Ini merupakan hak asasi bagi setiap manusi yang tidak di ingkari kecuali oleh mereka yang dzalim, kejam dan tiran.

b)Menegakkan di atas tanah ini Negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsiup dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia.

Adapun tingkatan amal (marotibul amal) itu adalah

a)Islahun nafs ( Perbaikan diri sendiri), sehingga ia menjadi orang yang kuat fisiknya, kokh akhlaqnya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Itu semua harus dimiliki oleh masing-masing al –akh.

b)( Bina’ul baiti Muslim ) = Pembentukan keluarga Muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrphnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya; memilih istri yang baik, dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajiban; mendiidk anak-anak dan oembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka denagn prinsip-prinso Islam.

c) Bimbingan masyarakat; yakni denagn menyebrakanb dakwah. Memerangi perilaku yang kotor dan mungkar, mendukung perilaku utama, amar ma’;ruf dan nahi mungkar. Bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikroh Islamiyah dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus menerus. Itu semua adalah kewajiban bagi jamah sebagai institusi yang dinamis.

d)Pembebasan tanah air dari setiap pengausa asing – non Islam – baik secara politik, ekonomi, mauoun moral.

e)Memperbaiki kleadaan pemerintah sehingga mejadi pemerintahan Islam yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan ummat, dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka mereka. Pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang anggotanya terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak berterang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsisten merepakna hokum-hukum serta ajaran-ajaran Islam.

f)Usaha mempersiapakan seluruh asset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam. Demkian itu dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannyaan, menegakkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga dapat mengembalikan klewibawaan khilafah yang hilang, dan terwujud persatuan ummat yang yang di impikan bersama.

g)Ustadziatul Alam = penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Isla ke seantero negeri.
“ Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya milik Alloh .” ( Qs Al anfal ; 39)

“ Dan Alloh enggan kecuali agar cahaya-Nya menjadi sempurna. “ ( Qs At-Taubah ; 32)


“ Dan Alloh menangkan setiap urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya. “

10 Wasiat Hasan Al-Banna

Imam Hasan Al-Bana, pendiri gerakan dakwah Ikhwan yang terkenal ke seluruh dunia, banyak meninggalkan catatan penting pada sejarah perjuangan Islam modern. Ingat, kehadiran Imam Hasan bertepatan dengan hanya beberapa saat setelah hancurnya kekhalifan Islam yang terakhir. Tak pelak, setelah kepergian beliau, tak ada lagi figur dakwah yang bisa dijadikan acuan dalam gerakan Islam.

Setiap hari, dalam dakwahnya, ia berjalan kaki tidak kurang dari 20 KM. Beliau menyambangi desa-desa dan dilakukannya tanpa pamrih sedikitpun dari manusia. Ia duduk di warung kopi pada beberapa malam, menyatu dengan masyarakat yang sebenarnya, dan ia mampu mengingat nama orang yang baru saja ditemuinya walaupun hanya sekali, sehingga orang yang diajak bicara olehnya menjadi simpati.
 
Banyak warisan dari Imam Hasan yang sangat menggelorakan semangat dakwah Islam. Berikut ini beberapa di antaranya dari sekian wasiat-wasiatnya:
  1. Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengara adzan walau bagaimanapun keadaannya.
  2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.
  3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.
  4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.
  5. Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir) adalah tenang dan tentram.
  6. Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.
  7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.
  8. Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.
  9. Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).
  10. Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan.

Gerakkan Pena, Ukir Sejarah

Ditulis: 28 Februari 2012
(Tulisan ini saya kembangkan dari hasil kajian diskusi dan sharing kepenulisan dahsyat WLC (Writing Lovers Community) Selasa, 28 Februari 2012, 15.30 @ Lap.PKnH Fakultas Ilmu Sosial UNY )
***

Membacalah, karena membaca itu adalah senjatanya menulis.. Bayangkan kalau kita ingin berperang tanpa senjata… Maka membaca, membaca, membaca, lalu menulislah… Karena membaca dan menulis dua hal yang tak bisa dipisahkan… Modal bisa menulis adalah membaca… Orang yang suka menulis mustahil tidak suka membaca…  Dan orang yang suka membaca tidak sempurna jika ia tidak suka menulis… Membacalah sebanyaknya, lalu menulislah…. Menulislah jika engkau ingin mengukir sejarah… Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, lalu mahasiswa pergi meninggal apa?... tinggalkan hal-hal yang mampu menginspirasi orang banyak melalui tulisan… walau beberapa tahun kemudian dilirik sebuah penerbit… walau hanya segelintir orang yang membaca… yakinlah, jika dipublikasikan, akan nada orang yang membaca, walau itu satu orang sekalipun, setidaknya memberikan pengaruh, ada suatu pesan yang tercerna oleh pembaca…
............................................................................................................................................................

Menulislah jika engkau tak faham dalam sesuatu yang engkau baca, menulislah jika tak faham sesuatu yang engkau dengar, menulislah jika tak faham sesuatu yang engkau ucap, menulislah… menulislah jika suara mu tak didengar… Menulislah, ungkapkan apa yang tak bisa terungkapkan lisan…. Menulislah kawan…. Karena Menulis adalah cara mencetak sejarahmu…
............................................................................................................................................................

Alasan kita menulis umunya ada 5, yang pertama adalah amal ma’ruf, yaitu menyampaikan kebaikan… kita menulis dengan maksud mempengaruhi kejiwaan orang lain… Jika itu berupa fiksi maka kita berusaha mempengaruhi rasio dan perasaan pembaca.. sedangkan jika kita menulis non fiksi maka kita mengupayakan untuk mempengaruhi pikiran pembaca… maka ini lah senjata untuk menyampaikan kebaikan kepada orang banyak… bayangkan, Koran, sebuah kumpulan kertas tulisan bernama Koran dibaca oleh ribuan orang dari pemulung sampai pejabat negara… dari bawahan hingga atasan… dari yang melarat hingga konglomerat… Lihatlah dikantor-kantor, suguhan setiap pagi adalah Koran… disediakan diatas meja-meja kantor, perusahaan-perusahaan… Maka besar harapan tulisan kita bisa dibaca oleh ribuan orang… Maka menulislah, dan sampaikan kebaikan… Amal ma’ruf….
...........................................................................................................................................................

Alasan yang kedua adalah mencegah kemungkaran, nahi mungkar… lewat tulisan juga kita bisa menyampaikan pesan-pesan dampak negatif dari maksiat, hedonisme, dan tindakan merugikan serta bertentangan dengan nilai-nilai agama… angkatlah isu-isu menarik yang bisa kita telaah dan menuangkannya lewat tulisan dan bisa dikonsumsi oleh orang lain…

 ............................................................................................................................................................

Alasan ketiga yaitu mengikat ilmu… Kata sabahat nabi, Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa ilmu itu ibarat hewan buruan, maka kita perlu menjaganya… berapa banyak ilmu yang kita pelajari lalu setelah selang beberapa lama atau bahkan baru satu jam berlalu kita sudah lupa… Kenapa kita tidak bernisiatif untuk menjadikan menulis sebagai solusi mengikat ilmu yang telah didapat?… setalah mendapat ilmu, tulislah, insyAllah itu mampu mengikat dan memperkuat apa yang kita dapat dengan kita menuangkannya kembali dalam tulisan bahasa sendiri…
............................................................................................................................................................

Bagi penulis pemula, jika kita menyukai seorang penulis, dan kita belum bisa menulis mandiri, maka liatlah mereka, kumpulkan karya tulis mereka, konsumsi dan kuasai cara dan warna tulisan mereka, kuasai arah dan cara pen-aluran tulisannya, baca dan baca, lalu tulis kembali, ceritakan kembali dengan tulisan kita sendiri apa dan bagaimana cerita dan pesan yang disampaikan dalam tulisan atau buku-buku mereka itu… Tulis ulang, ceritakan kembali, dengan bahasa dan kalimat sendiri… dengan begitu selain salah satu upaya kita untuk membiasakan menulis juga menambah kosa kata kita… Mengawali dengan begitu… Terutama jika kita lebih cendrung menyukai fiksi, maka dengan membiasakan menulis dan menceritakan ulang karya penulis-penulis yang kita sukai, efektif untuk penulis fiksi pemula… Dan kita boleh meniru style tulisan mereka dengan tetap mempertahankan warna dan cara tulisan kita sendiri…
.............................................................................................................................................................

Alasan keempat yaitu menyampaikan ilmu… ilmu jangan sampai kita pendam sendiri.. jangan sampai hanya berhenti dalam buku-buku diary kita, jangan sampai hanya memenuhi rak-rak buku dan lemari-lemari buku kita, jangan sampai berhenti di laptop dan computer kita… Tapi sampaikanlah ilmu itu, jangan pernah takut kehilangan ilmu, ilmu akan bertambah, lebih bermanfaat, dan menguat di ingatan, jika ilmu itu dibagi, diamalkan, disampaikan… Luar biasa bukan ^^
.............................................................................................................................................................

Alasan kelima adalah meneguhkan keimanan… Pernah ada yang bertanya dalam sebuah forum kepenulisan juga “Saya tidak PD mempublikasikan tulisan saya, tidak PD jika ada yang membacanya”…. Maka seketika itu juga sang pembicara mengatakan “Anda menentang kebesaran Tuhan…” Wah menyayat sekali yak… hehe… Tapi membuat penasaran, apa nih maksudnya wah wah Ngajak gelut ni orang, hehe.. mungkin demikian kata si hati penanya… maka pembicarapun menguatkan argumennya dengan penjelasan bahwa kemauan atau kemampuan kita dalam menulis itu adalah anugerah Tuhan… kita bisa menulis itu atas kuasa dan kehendak Tuhan lalu kenapa harus malu atas apa yang kita bisa….. Seperti apapun hasil tulisannya, itulah anugerah Tuhan atas kemampuan yang dititipkan lewat tangan kita.... Jangan percaya dengan namanya Bakat… Bakat itu membuat kita malas…. Toh bakat jika tidak ada kemauan, apa yang terjadi?... Maka yang seharusnyanya adalah justru optimalkanlah kemauan itu agar dapat membuahkan kemampuan…. Super kan ^^
............................................................................................................................................................

Terakhir, saling memotivasi... Dalam menulispun kita butuh partner, butuh teman, butuh orang lain yang bisa menyampaikan masukan…. Butuh orang lain untuk memberikan saran…. Butuh orang lain untuk mencela, eh maksudnya penambahkan dan memberi nilai lebih gitu lo, hehe ^^…. Pernah liat buku-buku yang kita miliki atau di toko-toko buku, dibagian depan atau paling belakang, sering kita temui kata-kata ucapan terima kasih, “terima kasih kepada ibu dan ayah yang telah memberi motivasi sehingga terselesainya novel ini, terima kasih kepada kakakku yang telah memberi masukan dari ide cerita novel ini sehingga mendapatkan ending yang mengesankan, terima kasih kepada Saudara ku Fitria yang telah mengoreksi dan membantu editing novel ini hingga bisa terima dan sampai ditangan pembaca yang semangat sekalian… “.. hehe :D Fitria? Terima kasih ya Fitria.. andai… halah…. hehe... Kembali ke topik…. Nah penulis-penulis terkenal, penulis-penulis hebat saja dibantu dan memerlukan orang lain dalam menghasilkan karya besar, kenapa kita tidak?... hayok jalin kekerabatan erat, saling memberi masukan…. Semoga terlahir penulis-penulis besar….
 **

Sebuah kalimat luar biasa dari seorang tawanan Syaith Qhutub sebelum ia dihukum mati “Biarlah senjata itu menembus kepala ku, biarkan…. Tapi senjata pena (tulisan) ku telah menembus ribuan kepala orang…” SubahanAllah ya…. Juga kalimat luar biasa yang disampaikan oleh seorang Kartini, “Orang dapat merampas seluruh senjata ku, tapi tidak dengan pena ku, itulah senjata ampuhku…” Super….liatlah seorang kartini, senjata nya Pena Bro…. Maka dari itulah tulisannya “Habis Gelap Terbitlah Terang”… karya tangan seorang Kartini yang kini tak asing ditelinga kita, hingga kini, terabadikan, kuat mememori….dahsyatnya tulisan…. Sudah puluhan tahun yang lalu, tapi hingga kini masih dikenang… Sejarah ada karena ada yang menulisnya…. Maka angkatlah pena, goreskan sejarah terbaikmu ^^
***
 

Blogger news

Blogroll

About